Tampilkan postingan dengan label Movies. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 16 Juni 2018

[Review] Prison and Paradise (2010)

for that is the one who drives away the orphan

Adalah sebuah keberuntungan bagi saya saat itu bisa ikut dalam screening film Prison and Paradise dengan kesempatan diskusi langsung dengan sutradaranya, Daniel Rudi Haryanto. Saat itu saya menonton film ini bersama Jakarta Cinema Club di Kenobi Space, Kemang.

Prison and Paradise merupakan film dokumenter karya Daniel Rudi Haryanto yang dirilis pada tahun 2010. Mengisahkan tentang kejadian mengerikan dan mengenaskan Bom Bali 2002 yaitu rangkaian tiga peristiwa pengeboman yang terjadi pada malam hari tepatnya tanggal 12 Oktober 2002. Dua ledakan pertama terjadi di Paddy's Pub dan Sari Club (SC) di Jalan Legian, Kuta, Bali, sedangkan ledakan terakhir terjadi di dekat Kantor Konsulat Amerika Serikat, walaupun jaraknya cukup berjauhan. Artinya film ini dibuat dalam waktu cukup lama, hasil riset dan pengurusan perizinan selama 7 tahun yang dimaksudkan supaya informasi yang tersaji di film ini nantinya tidak setengah-setengah.

Dan benar saja, film dokumenter ini sangat jeli dalam mengambil sudut pandang beberapa pihak, yaitu pihak para pelaku, pihak keluarga dan pihak jurnalis. Prison and Paradise bisa dibilang menguak cukup lengkap tentang makna bom bali dari berbagai sisi. Beragam kisah diantara penjara dan surga.

Kisah dimulai dari adegan 2 orang anak yang sama-sama membaca Qur'an, membaca surat yang sama. Lalu dilanjutkan dengan kisah keluarga dan anak-anak dari salah satu pelaku pengebomban, yaitu Mubarok. Suasana mendadak tegang ketika kita dipaksa untuk mendengar alasan, teori terorisme dan sumber ideologi langsung dari Amrozi, Imam Samudra dan Ali Ghufron sebagai otak utama Bom Bali. Dan akhirnya bagaimana kita melihat sebuah dilema yang dirasakan oleh Noor Huda Ismail seorang jurnalis yang mengabdikan dirinya dengan berbagai resiko untuk mengambil informasi sembari memahami bagaimana rasanya hidup di sekitar keluarga "teroris". Sebagai pihak yang dikatakan netral, Noor Huda sangat berperan penting dalam menjelaskan apa yang sebenarnya dialami dan dirasakan oleh keluarga pelaku dan korban.

Fokus saya mulai tertuju ketika potongan demi potongan adegan akhirnya menyingkap perbandingan kehidupan 2 pihak yaitu anak dari korban dan anak dari pelaku pengeboman yang sama-sama dibesarkan tanpa seorang ayah. Dan menurut saya ini adalah sebuah pilihan sudut pandang yang sangat menarik dan mudah dipahami bagi awam sekalipun. Bagaimana pihak anak yang notabene masih kecil dan tidak tau apa-apa, perlahan-lahan seiring jalannya waktu dan bertambahnya usia, mereka harus menerima kenyataan bahwa ayah mereka tidak ada bersama mereka lagi karena sebuah pemahaman ideologi yang salah. Bagaimana ibu mereka menjadi seorang single parent yang berkali-kali lipat lebih berat tanggung jawabnya dalam membayangkan bagaimana untuk menjelaskan kejadian sebenarnya pada anaknya kelak. Potongan kisah ini menjadi bukti nyata bahwa perbuatan ini bukan hanya menimbulkan korban jiwa, namun juga menimbulkan korban psikis yang sangat berbahaya bagi perkembangan mereka jika tidak ditanggapi dengan benar. Sangat disayangkan bahwa anak dan istrinya menjadi korban dari situasi yang sangat patriarki.

screening film Prison and Paradise 

Daniel Rudi Haryanto selaku sutradara menyatakan juga bahwa sebenarnya banyak protes dari pihak Australia yang menentang anak dan perempuan sebagai objek dalam pembahasan terorisme ini. Namun ia berdalih, bukannya tidak mungkin di masa depan teroris akan menggunakan wanita dan anak-anak dalam melancarkan aksi mereka. Dan memang terbukti pada bom surabaya beberapa waktu silam.

Sesungguhnya dia menginginkan film ini menjadi media silaturahmi antara sesama orang Indonesia yang mungkin saja paham-paham radikal, tidak hanya paham radikal muslim, namun juga paham radikal berbagai agama, sistem kenegaraan dan kepercayaan yang sangat mengancam keutuhan NKRI mulai masuk ke sendi-sendi terkecil dari suatu bangsa yaitu keluarga. Dan karya ini merupakan solusi pendekatan kultural yang bisa ia sumbangkan demi membuka cakrawala pengetahuan dan nurani penontonnya.




Jumat, 15 Juni 2018

[Review] Flatliners (2017) - Bermain dengan Kematian



Siapa yang tidak ngeri mendengar kata "Mati" , "Death". Walaupun kita memang ditakdirkan mati pada saatnya, namun apa yang terjadi ketika sekelompok mashasiswa kedokteran melakukan eksperimen untuk merasakan pengalaman kematian dengan menghilangkan nyawa dan mencoba membangkitkannya kembali? Hal ini dimulai dari trauma Courtney (Ellen Page) yang mengalami kecelakaan mobil dengan adiknya Tessa (Madison Brydges), menyebabkan Courtney memiliki keinginan untuk "bertemu" dengan adiknya melalui eksperimen sains ilegal tersebut.

"It's a great day to die!"

Dengan mengajak 4 temannya sesama fakultas kedokteran, Ia menjanjikan sebuah terobosan baru di bidang kedokteran dan membuka cakrawala pengetahuan serta sudut pandang mereka tentang kematian. Keempat temannya ini, Ray (Diego Luna),  Marlo (Nina Dobrev), Jamie (James Norton) dan Sophia (Kiersey Clemons) sangat takut dan meragukan apa yang dimulai oleh Courtney. Ketika mereka mencobanya, benar saja, ternyata banyak kejadian dan pengalaman yang mengubah hidup mereka. 

Flatliners adalah sebuah remake dari Film original berjudul sama pada tahun 1990. Saya belum pernah menonton tahun 1990 nya, namun saya rasa perbedaannya hanya pada karakter dan pada kemasan tahun 2017 yang lebih modern.

Dan Flatliners, sangat cocok untuk ditonton diwaktu luang karena bukanlah film dengan cerita atau plot yang kompleks. Ide awal yang ingin disampaikan memang cukup bagus, namun sayang sekali untuk finishing dan kedalaman ceritanya masih jauh dari kata sempurna. Sangat banyak yang seharusnya bisa digali dan dikembangkan dalam flatliners.

Para pemainnya pun rasanya tidak buruk dalam mengalunkan kisah demi kisah tiap pribadi yang lama-lama terkuak. Selain itu, pesan yang disampaikan film ini di akhir juga tidak terlampau buruk, misalnya saja "lebih baik mengakui kesalahan", "memaafkan masa lalu", "memaafkan diri sendiri". 


"Some lines should not be crossed"

Ya, bisa dibilang walaupun ide dari film ini sangat bagus, namun hasilnya hanyalah sebuah film medioker. Biasa saja.
Namun bukan berarti film ini tidak layak ditonton ya!

Jumat, 27 April 2018

The Shape of Water - Cinta Beda Dunia


A Fairy Tale for Troubled Times

Tahun ini, The Shape of Water menjadi primadona oscar dengan menyabet 4 kategori sekaligus yaitu Film terbaik, Sutradara terbaik, Musik original terbaik. dan best production design. Dan masih banyak lagi penghargaan yang dimenangkan oleh film ini. Menilik karya  Guillermo del Toro ke belakang, Pan's Labyrinth, Karyanya kali ini punya warna yang agak mirip, walaupun unsur fantasinya tidak sedalam Pan's Labyrinth namun lebih liar.

Berlatar di pusat penelitian rahasia Amerika di tahun 1960-an, petugas pembersih Elisa Esposito (Sally Hawkins)  mengalami sebuah ikatan "cinta" dengan makhluk amfibi yang merupakan subjek penelitiannya.

Menonton film ini menjadi menarik ketika banyak yang menyandingkannya dengan cerita rakyat Perancis yang terkenal itu. "Beauty and The Beast". Namun menurut saya sebenarnya tidaklah sama. Saat berbicara tentang beauty, saya rasa film The Shape of Water tidak menonjolkan kemolekan dan kecantikan tokoh wanitanya, melainkan mengangkat kekurangan dan sepi dalam kesendirian setiap tokohnya. Kesan "kesepian" ini juga digambarkan dengan sosok Elisa yang bisu sehingga saat menonton film ini pun aura "kesepian" itu makin kuat. Belum lagi padanan musik yang terkadang seperti menyayat nurani.

Visi sutradara tentu sangat penting, tapi peran para aktornya tentu menjadi kunci keberhasilan film ini. Walaupun tidak banyak tokoh yang ditampilkan, namun semua memegang peranan yang sangat vital untuk menjajaki apa sebenarnya yang ingin disampaikan oleh film. Jadi, walaupun para karakter utamanya tidak pernah berbicara, para penonton diajak untuk tetap mengerti kisah Elisa dan keintimannya dengan si makhluk air ini. 

Dari segi visual, Guillermo del Toro merealisasikannya dalam banyak scene yang memadupadankan seni dan suasana yang mencekam pada waktu yang bersamaan. Digambarkan pula dalam bentuk si-makhluk air yang mengerikan namun "lugu", membuat film ini makin beraneka rasa.

Jadi siapa yang sudah menonton? Jika belum, ayo segera ditonton supaya ikut merasakan bagaimana cerita fantasi dari Juara Oscar ini.



Kamis, 21 September 2017

[Review] Kingsman: The Golden Circle

Manners maketh man.

Sekuel yang sangat sangat menghibur. Ya, membawa ekspektasi yang sangat tinggi, saya datang ke bioskop untuk mendapatkan sebuah sajian hiburan ringan tapi lengket di kepala bahkan selepas meninggalkan gedung bioskop. Kingsman: The Golden Circle (Kingsman 2) benar-benar mewujudkannya. Dari segi cerita, saya rasa Kingsman 2 lebih asik dibanding pendahulunya. Lebih nakal, lebih berani, lebih total dalam mengimplementasikan konsep yang memang diusung sejak awal. Elegan, cool, funky, konyol, lebay, thrilling, semuanya dikemas dalam satu paket agen mata-mata yang terbungkus label tukang jahit.

Mungkin tidak sedikit yang merasa dipermainkan oleh alur dan pemotongan adegan yang sangat mendadak pada film Kingsman 2 ini. Seketika kita tidak diperkenankan bersedih terlalu lama ataupun tertawa terlalu lama karena scene berikutnya adalah kebalikan dari emosi kita. Contoh ketika kita sedang tertawa karena ada adegan yang lucu, tiba-tiba keluar adegan yang menjijikan dan seketika membuat dahi mengerenyit. Ditambah banyak adegan di Kingsman 2 yang tak masuk akal dan membuat kita geleng-geleng kepala sekaligus takjub.

Scene demi scene dalam sequel Kingsman ini melaju lebih cepat dari yang pertama. Berhubung Eggsy sekarang adalah agen yang sudah professional, bukan anak baru lagi. Alias, Eggsy yang dulu bukanlah yang sekarang. Jadi mungkin pola ceritanya mirip namun kali ini dengan rasa berbeda.

Kingsman 2 memiliki durasi yang lebih lama. Artinya, ceritanya memang sangat padat tidak basa basi dan bisa dibilang sangat ringan. Maka ketika anda menonton ini, anda tidak akan bertanya-tanya kenapa begini kenapa begitu karena semuanya tertera jelas dan eksplisit. Inilah yang membuat Kingsman sangat menghibur dari awal sampai akhir. Belum lagi ditambah aspek CGI yang menawan, pas.

Nah, bagi yang beranggpan lebih bagus film yang pertama sah sah saja. Tapi taukah kamu kalau menjaga performa sekuel itu sangat sangat sulit, karena memang film sekuel akan selalu ada dalam bayang-bayang film originalnya. Jarang sekali ada sekuel yang sukses. Tapi, tidak bagi Kingsman 2. Bagi saya Kingsman 2 sudah bisa berdiri sendiri, tidak perlu terlalu dibandingkan dengan yang pertama. Karena kembali lagi saya tekankan bahwa si Eggsy ini bukan lagi Eggsy yang dulu.

Jika anda ingin mencari film yang mengaduk emosi :
Serius tapi konyol, sedih tapi lucu, keren tapi menjijikan, maka Kingsman: The Golden Circle adalah pilihan tepat untuk akhir pekan anda minggu ini :)

Minggu, 23 Juli 2017

[Review] - Dunkirk


Dunkirk merupakan karya terbaru Christopher Nolan, sutradara dan penulis yang sudah menghasilkan beberapa masterpicece secara berturut-turut dengan rating yang luar biasa tingginya. Bagi para pencinta film dan sejarah perang dunia, Dunkirk tentunya tidak boleh dilewatkan sama sekali. Bagi pengamat teknikal sinematografi, Dunkirk juga tak boleh dilewatkan.

Berlatarbelakang kisah nyata perang dunia II, tepatnya perang eropa tahun 1940 antara Jerman melawan pasukan sekutu gabungan Inggris-Perancis. Dunkirk sendiri merupakan nama pantai tempat pasukan Inggris-Perancis dikepung tak berdaya, mereka sudah kalah dan ingin pulang, namun Jerman yang berencana menjadikan Dunkirk sebagai tempat pembantaian massal membuat mereka hanya menunggu dua hal, yaitu ajal atau keajaiban.

Mengenai pentingnya Pertempuran "Dunkirk", Christopher Nolan menyatakan, "Ini adalah momen penting dalam sejarah Perang Dunia II. Jika evakuasi ini tidak berhasil, Inggris pasti akan menyerah dari Jerman dan seluruh dunia akan hilang." Keberhasilan evakuasi memungkinkan Winston Churchill memaksakan gagasan kemenangan moral yang memungkinkannya kemenangan sekutu karena telah menggembleng pasukannya seperti warga sipil dan memaksakan semangat perlawanan. Sementara dalam logika umum, seharusnya terjadi penyerahan.

Diwujudkan dengan tone visual ala Nolan yang sudah lekat, Dunkirk juga didukung dengan komposisi latar suara yang seringkali menggetarkan hati. Bayangkan saja, fakta bahwa Hans Zimmer sang komposer yang kabarnya memakai jam tangan Nolan untuk membuat suara detik jam. Film ini juga sangat jenius dalam memadatkan cerita serta membangun karakter-karaker serta sudut pandang mereka dari nol hingga akhirnya terkoneksi satu sama lain. Tiap adegan dan transisi bagi saya seluruhnya penting.



Sebagai catatan, kali ini Nolan tidak akan membuat anda berfikir lebih keras untuk memahami alur cerita. Tidak seperti film-film sebelumnya yang membuat anda lelah menyusun puzzle alias plot rumit yang akhirnya menjadi luar biasa puas jika bisa memecahkannya. Anda cukup duduk dan siapkan diri untuk ikut "merasakan" apa yang dirasakan tiap-tiap karakter.

Namun bukan berati juga anda bisa santai sambil mengunyah popcorn, karena Dunkirk menyajikan ketegangan yang sangat intens. Dunkirk mengajak penonton untuk turut merasakan perasaan tentara yang terjebak di Dunkirk saat itu, turut merasakan bagaimana dilema warga sipil yang rela meninggalkan rumah demi menjemput para tentara. Walaupun sangat minim dialog namun saya yakin penonton dapat mengerti dan merasakan konflik batin yang dialami tiap karakter, membuat penonton tidak boleh 'senang' saat menonton Dunkirk.

Terbukti, saat saya menonton film ini, saya merasa ingin cepat selesai saja, ingin cepat pulang ke rumah. Mirip dengan apa yang dirasakan para tentara sekutu di film ini. Setiap tekanan, ketakutan, kerinduan yang dialami tiap karakter pun bisa ikut dirasakan penonton. Inilah yang mungkin membuat durasi film ini cukup cepat, tidak sampai dua jam.

Dunkirk bukan sekedar film tembak-tembakan, bukan sekedar drama perang. Keseimbangan aksi, drama, latar lagu, efek visual dan efek suara yang realistis karena beberapa memakai properti dan lokasi asli, membuat Dunkirk menjadi film yang sangat berkualitas dan realistis. Belum lagi deretan aktor papan atas Hollywod yang mengisi film ini seperti Tom Hardy, Mark Rylance, hingga personel One Direction yang sensasional Harry Styles membuat film ini makin "mahal".

Dan bukan Nolan namanya jika tidak memberikan kejutan di akhir cerita. Silakan menonton dan menyaksikan sendiri bahwa Dunkirk ditutup dengan mantap, mewah namun tak berlebihan. Namun walaupun demikian, tidak bisa dipungkiri bahwa film ini bukanlah karya terbaik Nolan.

Rating saya : 8.5/10

Selasa, 18 April 2017

4 Aktor Hollywood Favorit


Saya membayangkan jika ke-empat aktor ini menjadi satu dalam satu film. Bagi saya pasti akan sangat keren. Bagaimana dengan anda? apa punya pendapat lain?

1) Eddie Redmayne



Bersinar dengan bantuan nama besar Les Miserables pada tahun 2012, Eddie terlihat makin matang pada film The Theory of Everything. Berperan sebagai Stepen Hawking, dan akhirnya membawa pulang sebuah piala oscar. Dan ia pun sekarang menjelma sebagai sosok Newt Scamander pada cerita dunia sihir karya J.K.Rowling, Fantastic Beasts and Where to Find Them.

2) Joseph Gordon-Levitt



Perannya sebagai cowok yang sedang menjelajahi kisah cintanya dalam waktu 500 hari pada 500 Days of Summer membuatnya mulai memiliki banyak penggemar dari kalangan anak muda. Setelah itu sepertinya ia memasuki puncak karir dengan dipercaya untuk memainkan film-film besar seperti Inception, The Dark Night Rises dan Looper, Dan yang paling mengesankan bagi saya adalah ketika Ia berperan sebagai karakter utama pada true-story movies seperti The Walk dan Snowden

3) Jake Gyllenhaal


Tipe film Gyllenhaal yang kebanyakan adalah drama-psikologis berbumbu thriller menempatkannya pada aktor yang punya peran sangat penting untuk memainkan emosi penonton. Dimulai dari Donie Darko hingga yang terbaru Life. Namun tetap bagi saya Nightcrawler adalah sebuah rumah yang nyaman bagi Jake sehingga Jake terlihat sangat luwes dan melahap dengan mudahnya karakter Louis Bloom, si reporter gila yang ambisius.

4) Jesse Eisenberg



Saya sangat menyukai gestur Jesse tentunya saat memainkan film sulap termewah belakangan ini, "Now You See Me". Keahlian Jesse berhasil membuat karakter Daniel Atlas yang tengil namun terbukti jagoan. Karakter inilah yang selalu dibawa bahkan untuk merepresentasikan karakter Mark Zuckerberg sang bos Facebook di film The Social Network.

Nah, kira-kira ada tidak ya rumah produksi yang mampu membayar mereka semua dalam satu film, lalu adakah sutradara kreatif yang bisa menyatukan mereka? Kita lihat saja nanti :)

Sabtu, 25 Maret 2017

[Review] LIFE (2017)

"We better off alone"

Saat penikmat film outer space rindu dengan film sejenis, Life hadir mengobatinya dengan mengusung tema horror-sains Life sendiri adalah sebuah judul yang sederhana namun mewakili apa yang ingin disampaikan film ini. Bertahan hidup.

Sekilas, Life tidak ingin basa-basi dalam menggiring penonton langsung ke pokok permasalahan. Bahwa organisme yang hidup di Mars adalah organisme yang sangat pintar, kuat dan berbahaya. Daniel Espinosa selaku sutradara seakan tidak terlalu peduli dengan aktor dan aktrisnya. Terlihat sedikit egois karena tidak ada perkenalan berkesan dan tidak ada pengembangan karakter yang berarti. Keegoisannya pun berbuah menjadi hasil cerita yang sangat padat dan singkat.

Selain itu, keputusan Daniel untuk "membuang" Reynolds terlalu cepat berdampak pada mood saya yang berubah seketika. Ya, seketika saya harus melupakan ekspektasi saya: apa jadinya jika Gyllenhaal berduel peran dengan Reynolds. Mulai dari peristiwa "dibuangnya" Reynolds inilah saya menjadi pasrah alias ikhlas menerima apapun yang disajikan selanjutnya.

Akhirnya, bahkan seorang Gyllenhaal tidak bisa berbuat banyak karena fokus film ini lebih kepada ingin menakut-nakuti penonton tanpa banyak basa-basi dialog panjang maupun interaksi antar karakter.

Bagi para pencinta film outer space, jangan sampai melewatkan Life. Banyak implementasi visual baru dan mendetail, ngilu, yang menambah ketegangan, memperkuat atmosfir horrornya dan mungkin akan membuat penonton berteriak "ih!". Bagian yang paling saya suka mungkin adalah bagian gumpalan darah yang melayang-layang karena berada pada ruang tanpa gravitasi.

Bagian ending film cukup jenius sekaligus nyeleneh menurut saya. Teknik kamera dan transisi pada bagian akhir menjadi sebuah scene yang mungkin akan mengecoh anda. Life memang tidak semewah Interstellar, tidak seasik The Martian, dan tidak semelelahkan Gravity. Namun Life jauh lebih baik dan akan memberikan sensasi horror yang lebih dibanding anda menonton Pandorum misalnya.





Kamis, 15 Desember 2016

[Review] Rogue One: A Star Wars Story

May the force be with us.

Menjadi film paling ditunggu di bulan ini bagi penikmat Star Wars saga, Rogue One adalah seri Star Wars yang memang memiliki bobot tidak terlampau berat sebagai seri perantara untuk mengantarkan para fans menuju Episode VIII.

Jyn Erso, seorang prajurit Rebellion dan juga kriminal, menghadapi sebuah misi paling berbahaya yang menjadi cikal bakal konflik utama Star Wars saga, mencuri rencana Death Star demi mengetahui kelemahan senjata paling berbahaya di alam semesta itu dan mengirimnya ke pasukan Rebellion. Dinaungi dendam kesumat kepada Krennic, Jyn bersama para pejuang "Rogue One" lainnya memulai perjuangan berbekal informasi rahasia dari ayahnya Galen Erso.

Walaupun terlihat bertujuan sebagai "popcorn movie", Rogue One bisa dibilang terlalu serius dan gelap. Namun walaupun serius, rasanya Gareth Edwards sebagai Direktor kurang berani mengulik konflik dan karakternya terlalu dalam. Terkesan dia tidak seluwes J.J. Abrams dalam memainkan porsi dan tempo film. Malah porsi aksi tembak-tembakan laser yang saya rasa berlebih dan terlalu ramai, disisi lain menjadi khas Star Wars namun dampaknya pada keseluruhan film yang menjadi agak membosankan. Gembar-gembor promosi Rogue One pada supermarket dan hypermarket dengan misi pengumpulan koin medali rebellionnya nyatanya tidak bisa membayar kekurangan Rogue One setelah menonton.

Felicity Jones yang digadang-gadang menjadi ujung tombak yang tajam bagi seri ini, cukup terasa tumpul. Bukan salahnya, namun memang naskah yang kabur membuatnya tidak bisa dengan baik membentuk sosok "seorang pemimpin pemberontakan" sejati, yang padahal pada akhirnya menjadi pahlawan bagi seluruh galaksi. Setiap dialog-dialog penting berlangsung singkat dengan lompatan scene yang begitu cepat sehingga kurang terasa intimasinya. Cassian Andor yang diperankan oleh Diego Luna juga tidak terlalu kuat dan tidak terlalu jelas perannya di film ini. Sisanya, para pemberontak salah satunya si master buta Chirrut ÃŽmwe (Donnie Yen) yang cukup meninggalkan kesan, dan K-2SO sebuah robot yang walaupun tidak menjadi se-superstar C-3PO, R2-D2 dan BB-8 namun tetap berhasil menjadi pelengkap.

Bagi awam Star Wars, jangan terlalu berharap untuk dapat menikmati film ini secara utuh karena Rogue One merupakan salah satu potongan puzzle pelengkap dari 7 Episode Star Wars. Tepatnya satu garis waktu sebelum Episode IV: A New Hope (1977). Walaupun dikatakan sebagai Stand-Alone movie, akan sedikit kesulitan untuk memahami Rogue One karena narasi Rogue One berkaitan dengan Episode yang lain. Mungkin hanya akan terkesan sebagai film aksi yang seru karena hampir 80 persen adegannya adalah adengan peperangan yang masif dengan visual efek mumpuni.

Namun terlepas dari semua itu, bisa dimaklumi karena begitulah Star Wars. Konfliknya luas tapi tidak rumit, kental dengan aroma politik dan tidak lepas dari adanya hubungan keluarga. Dengan eksekusinya yang sederhana inilah Star Wars tetaplah sebuah sajian dengan nuansa nostalgia yang kuat. Bagi para fans tentu sudah hafal benar para tokoh dan koneksinya, tipe-tipe pesawat tempurnya, para robotnya dan juga properti-properti yang digunakan. Dan beberapa penikmat pasti sadar benar dengan adanya Easter eggs yang tersebar di beberapa scene.

So, enjoy it! :)


Senin, 12 Desember 2016

[Review] Moana (2016)

The ocean is calling.


Moana dibuka dengan sebuah narasi yang diangkat dari kisah mitologi Polinesia bagaimana pada jaman dahulu, daratan tidak ada. Sampai ada dewa pulau Te Fiti yang dipercaya sebagai sang pencipta daratan dan segala isinya. Maui yang dianggap sebagai manusia setengah dewa, mencuri kristal yang merupakan "hati" dari Te Fiti. Perbuatannya membuat kehidupan di bumi menjadi terancam. Sampai ada anak bernama Moana yang "dipanggil oleh lautan" untuk menyelamatkan bumi sebagai takdirnya.

Secara garis besar, kekuatan Moana terletak pada penyajian animasi yang detail dan menawan bahkan terlihat fotorealistik, visualisasi keindahan dan keagungan alam, lagu tema yang ear-catching dan mewah, humor yang ringan dan kesederhanaan plotnya, sehingga Moana tepat dipilih sebagai film keluarga pekan ini.

Walaupun Moana terkesan cukup menakjubkan pada sekitar 30 menit pertama, dari presentasi premis hingga ide-ide unik yang cukup lucu dan menarik contohnya saja tato Maui yang bisa bercerita, Heihei si ayam konyol, hingga air laut yang juga merangkap sebagai sebuah karakter yang hidup, namun sayangnya bobot cerita Moana tidak cukup berkembang seiring jalannya waktu. 

Ya, bagi penonton dewasa yang mungkin mengharapkan "lebih" dari segi cerita nampaknya mesti menaruh standar yg lebih rendah karena naskah Moana sangat singkat, sederhana, datar seperti banyak film yang alurnya mudah ditebak alias popcorn movie. Harapan "lebih" ini wajar saja muncul karena Disney sebelumnya bisa lebih "berbobot" di segi kedalaman ceritanya. Sebut saja Wreck-It Ralph, Big Hero 6, hingga yang terbaru, Zootopia yang justru disisipkan bau politik dan korupsi.

Namun di sisi lain, Dwayne 'The Rock' Johnson sebagai pengisi suara Maui cukup berhasil dalam memberikan nyawa kepada sosok Maui yang pemberani sekaligus linglung dan konyol.  Begitu pula Auli'i Cravalho dan para pengisi suara lainnya yang juga turut menyanyi dengan suara aselinya.

Terlepas dari semua itu, sebelum Moana diputar, justru sebuah animasi intro pendek berjudul "Inner Workings" yang malahan berkesan karena maknanya yang cukup bagus. Ya, kita jadi ingat adanya intro animasi ini seperti "Piper"-nya Finding Dory. Yuk, mari kita lihat.

Minggu, 20 November 2016

[Review] Fantastic Beasts and Where to Find Them


From J.K. Rowling's wizarding world


Dibuka dengan dentingan nada khasnya, Fantastic Beasts and Where to Find Them adalah sebuah penantian yang dirasa cukup panjang bagi para penggemar setia sekuel Harry Potter. Walaupun sekuel terakhir dirilis masih terbilang belum lama, yaitu tahun 2011, namun kemunculan kembali dunia magis karya J.K. Rowling ini tentunya dianggap sebagai pelepas dahaga ditengah kerinduan para penikmat film sihir tersukses abad ini.

Pada tahun 1926, Newt Scamander seorang pengelana dan pengarang buku yang mengumpulkan hewan-hewan ajaib tiba di New York untuk sebuah misi pribadinya. Ketika pada suatu waktu sebuah insiden melibatkan Newt dan Kowalski di sebuah bank membuat Newt akhirnya harus bertemu dengan masalah baik untuk dirinya dan bagi kaum No-Maj (Manusia tanpa kekuatan sihir).

Tempo film cukup terasa merayap lambat sampai setengah film berjalan. "Geregetan" rasanya melihat Fantastic Beasts yang tidak sesegera mungkin mencapai inti konflik. Premisnya ringan diisi banyak konten yang ringan pula. Malah Graves (Colin Farrell) si antagonis yang rasanya masih kurang disana sini untuk dibilang "kejam". Lalu ada juga Credence (Ezra Miller) yang entahlah apa kaitannya di seri ini dan mungkin seri nanti. Jadi terkesan film pertama ini hanya sekedar film petualangan untuk keluarga.

Untuk presentasi karakter, dibandingkan seri Harry Potter, harus saya katakan bahwa tidak atau belum ada karakter yang terlampau kuat di seri kali ini. Sangat berbeda dengan seri Harry Potter yang hampir semua karakternya kuat atau terlanjur kuat. Ya, kekurangan terbesar dari permulaan Fantastic Beasts ini adalah lemahnya penyajian karakter baik protagonis maupun antagonis, forgettable, mudah dilupakan. Padahal jumlah karakternya tidak sebanyak Harry Potter. 

Yang paling saya tunggu tentunya performa seorang Newt Scamander itu sendiri. Eddie Redmayne yang semestinya bisa diberikan ruang lebih banyak untuk berekspresi dan berkembang. Sayangnya, sepanjang film, Eddie tidak diberikan kesempatan untuk menjadi "superstar" di film ini.  Kekuatan Eddie pada gestur tubuh dan aksen britishnya belum bisa dimaksimalkan untuk menjadi sosok idola baru setelah Daniel Radcliffe. Belum lagi dua orang tokoh inti wanita, Tina dan Mary Lou (Katherine Waterston dan Samantha Morton) yang terlihat hanya sebagai pelengkap. Justru seorang Kowalski yang diperankan oleh Dan Fogler yang terlampau banyak mengambil perhatian penonton dengan banyolan dan tingkahnya yang konyol. Juga hewan-hewan ajaib dari yang lucu hingga fantastis berhasil divisualisasikan dengan apik.

J.K. Rowling invites you to a new era of the wizarding world

Terlepas dari apakah film ini ingin mengarah ke masa lalu Dumbledore dan sebagainya yang mungkin tergambar detail untuk para fans Harry Potter, pada akhirnya saya kurang mengerti apa yang direncanakan penulis sejenius Rowling untuk "era baru dunia sihir" yang dijanjikan melalui sebuah "perkenalan" yang menurut saya malah kurang berkesan dari segi karakter dan kedalaman ceritanya.

Dari sisi awam mungkin masih banyak pertanyaan, masih banyak trivia dan easter eggs yang saya harap tidak berlalu begitu saja. Mungkin akan dijawab pada sekuel demi sekuel. Disamping itu, Fantastic Beasts tetaplah sebuah "obat kangen" yang sangat menghibur, hasil paduan Rowling dan Yates yang masih kental ciri khas magis-nya baik segi visual, atmosfir film dan latar musiknya. 


Minggu, 30 Oktober 2016

[Review] Doctor Strange (2016)

Open your mind. Change your reality.

Ketika Marvel memutuskan untuk merealisasikan Doctor Stephen Strange dalam lanjutan kisah-kisah superhero mahal MCU (Marvel Cinematic Universe), para fans dan penikmat film menaruh harapan besar pada hasil eksekusi Scott Derrickson. Dan seperti biasa, VFX yang mutakhir, pembawaan heroes MCU yang santai, fun, namun berbobot membuat penonton betah untuk berlama-lama duduk di bioskop dan menyaksikan apapun sajian yang ada di layar. 

Mengingat bahwa kemunculan pertama Doctor Strange pada komik Marvel 'Strange Tales' Juli 1963, artinya film kali ini adalah hasil dari 53 tahun pengembangan ide cerita Ditko dan Stan Lee. Dan waktu yang sangat lama untuk bisa mewujudkan visual "space and time bending" yang pada akhirnya tidak mengecewakan sama sekali. Dibandingkan MCU pendahulunya, bisa dibilang Doctor Strange memiliki visual efek (VFX) yang paling luar biasa mewah dalam arti bukan hanya ledakan atau efek-efek kehancuran yang detail dan kompleks , melainkan visual efek yang mungkin baru kita lihat sebagai perwujudan imajinasi cerdas para kreator Doctor Strange. 

Kita nanti bisa melihat bagaimana kota New York yang seperti dilipat-lipat sebagai visualisasi tentang space (ruang) and time (waktu) yang bisa dimanipulasi melawan hukum alam. Mengingatkan kita pada ide yang mirip di film Inception karya maestro Cristopher Nolan. Pada akhirnya saya hampir tidak mau berkedip karena merasa sayang jika ada sajian VFX yang terlewat. 

Beralih dari VFX, ke para pemain. Tentunya Benedict Cumberbatch adalah "Most Valuable Player"-nya film ini, memiliki peran penting dalam menghidupkan karakter Stephen Strange. Secara subjektif, 10-20 menit pertama melihat Cumberbatch, otak saya masih terperangkap dalam karakter "Sherlock Holmes" yang juga diperankannya di 3 season series "Sherlock" secara apik. Mulai ketika Dr. Stephen Strange melakukan perjalanan spiritualnya, barulah perlahan-lahan saya mulai mengerti dan mulai jelas bagaimana seorang Doctor Strange. Sifat dingin, angkuh, logis, menyepelekan orang lain, tapi sekaligus sebagai tokoh yang rapuh benar-benar dilahap (lagi) dengan sempurna oleh Cumberbatch. Dan memang khas di film-film sebelumnya pun seperti itu, di The Imitation Game misalnya.

Untuk segi Villain, Selain Dormammu, Kaecilius (Mads Mikkelsen) bisa merepresentasikan karakter villain yang lebih 'manusia' secara baik. Karakter villain yang bisa dibilang punya alasan kuat dan masuk akal untuk menjadi jahat. Maka dari itu, Kaecilius pun terasa lebih dekat dan mudah dipahami karena masih punya sisi manusiawi-nya contohnya masih punya selera humor ataupun pendiriannya yang masih bisa goyah.

Sedangkan untuk para aktor aktris pendukungnya, Wong, yang nama aselinya Benedict Wong,  beberapa potongan dialognya dengan Cumberbatch sangat berhasil mencairkan suasana, memecah citra formalnya kehidupan para biksu. Mordo, oleh Chiwetel Ejiofor yang juga tidak pernah mengecewakan. Sedangkan Tilda Swinton yang bukan wajah asia namun disini menjadi sosok Biksuni (The Ancient One) yang jadinya juga memberikan kesan baru.

Akhir kata, seperti biasa, bagi para fans Marvel, silahkan kembali mencari potongan-potongan puzzle maupun easter egg yang mungkin menjadi petunjuk untuk film sebelumnya maupun film setelahnya. Selain itu bagi yang hanya ingin mencari hiburan film box office dengan kualitas visual yang tinggi dan cerita yang punya bobot namun tidak terlampau berat, jelas Doctor Strange menjadi pilihan tepat untuk rekreasi anda.


Sabtu, 22 Oktober 2016

[Review] Captain Fantastic (2016)


Review Captain Fantastic Bahasa Indonesia
He Prepared Them For Everything Except The Outside World

Setiap orang tua ingin yang terbaik untuk anaknya. Berbagai macam cara dilakukan orang tua untuk mendidik anak dari cara yang biasa hingga cara yang dianggap orang lain "aneh". Captain Fantastic mengisahkan seorang ayah yang membesarkan dan mendidik anakya dengan cara yang bisa dibilang "ekstrim" namun juga tidak bisa dibilang salah. Ben (Viggo Mortensen) sang ayah, membesarkan mereka di sebuah hutan di Pacific Northwest.

Dibuka dengan shot hutan yang masih asri, Captain Fantastic menunjukkan suasana kehangatan yang dibentuk oleh sebuah keluarga yang terdiri dari seorang ayah dan 6 orang anak yang tinggal di hutan, melakukan kegiatan yang sangat dekat dengan alam seperti berburu, bertani hingga memanjat tebing. Hingga suatu saat mereka mendengar kabar yang mengagetkan sekaligus menyedihkan yang mengharuskan mereka untuk keluar dan melihat dunia...

Dibalik keunikan premisnya, Captain Fantastic pada plot-nya menyimpan pesan-pesan baik tersirat maupun tersurat yang cukup dalam terutama untuk segi norma sosial, edukasi dan parenting. Banyak juga sindiran-sindiran halus maupun frontal yang lekat sekali dengan cara mendidik anak jaman sekarang ini.

Akting kualitas tinggi yang diperlihatkan oleh Viggo berbanding lurus dengan kemampuan akting ke-enam pemeran anak-anaknya: Bo (George MacKay), Kielyr (Samantha Isler), Vespyr (Annalise Basso), Rellian (Nicholas Hamilton), Zaja (Shree Crooks) dan Nai (Charlie Shotwell). Sehingga semuanya nampak natural dan mengocok perut karena sesekali disisipi adegan-adegan konyol.

Matt Ross sebagai sutradara dan penulis naskah tidak terlalu berbelit-belit dalam menyuguhkan Captain Fantastic. Semua bagian cerita seakan mengalir luwes dan ringan namun dibungkus dengan sajian cerita berkualitas tinggi. Disinilah kekuatan Captain Fantastic sehingga layak untuk ditonton untuk sekedar mengisi waktu santai.




Minggu, 16 Oktober 2016

5 Lagu OST. Sing Street Terfavorit



"Boy meets girl, girl unimpressed, boy starts band"

Bukan hanya filmnya yang punya cerita yang renyah dan ringan, namun juga lagu-lagu soundtrack yang begitu mudahnya melekat di telinga menjadikan Sing Street tidak hanya asik untuk ditonton melainkan juga asik untuk didengar.

#5. Go Now
Dinyanyikan oleh Adam Levine, Agak lupa, lagu ini dibawakan di bagian mana. Yang jelas, lagunya enak. :)



#4. Beautiful Sea
Beautiful Sea ini adalah lagu yang dibawakan Band nya Cosmo saat membuat video klip di pantai. Momen di pantai ini bagi Cosmo pasti tidak akan dilupakan, karena  Ann melakukan hal tak terduga, yaitu terjun ke laut. "you can't never do anything by half, you understand that", kata Ann. Ann mau nunjukkin yang terbaik untuk Cosmo.




#3. Drive it Like You Stole It
dibawakan saat senior Prom di sekolah Cosmo. Saat itu Cosmo dan band-nya lagi jadi superstar banget. Asik sih lagunya.



#2. To Find You
Lagu super galau yang dinyanyikan Cosmo (Ferdia Pello)  juga saat Prom. Saat membawakan lagu ini, Cosmo hanya diiringi sang keyboardis. Saat itu Cosmo sedih Ann sama sekali tidak datang ke acara Prom sekolah. Bagian manisnya adalah ketika Cosmo menyanyikan lagu ini di sekolah, pada saat yang sama, Ann sedang mendengarkan lagu ini di rumahnya.



#1. Up
Lagu paling juara di Sing Street. Lagunya ringan, liriknya pun juga sederhana namun mengena. Cocok buat kamu yang hatinya lagi berbunga-bunga.

Bagian lirik favorit : 


"It's two o'clock on the edge of the morning She's running magical circles around my head "
" I see the girl with the eyes I can't describe And suddenly it's a perfect Sunday And everything is more real than life"
"Going up, She lights me up, She breaks me up, She lets me up"

Rasanya pas sebagai representasi perasaan aja sih jadi saya taroh nomor satu :3



[Review] Inferno (2016)


His greatest challenge. Humanity's last hope.

Inferno dibuka dengan tensi yang begitu tinggi. Prolog yang kritis dan visual yang begitu mendebarkan. Sangat menarik untuk menebak-nebak apakah sebenarnya premis yang akan diangkat untuk mengantar kita kepada "Inferno".

Bermula dari diputarnya video presentasi seorang Bertrand Zobrist (Ben Foster) tentang bumi yang telah rusak karena populasi manusia yang tidak terkontrol. Zobrist adalah seorang yang memiliki pengaruh terhadap sekte rahasia yang meyakini bahwa manusia harus dimusnahkan demi keseimbangan dan keberlangsungan bumi. Dari dialah, solusi bernama "inferno" diyakini sebagai pemusnah massal yang paling ampuh demi merealisasikan misinya.

Disamping itu, Prof. Robert Langdon (Tom Hanks yang masih dipercaya untuk memerankan Langdon) terbangun di rumah sakit dengan kondisi amnesia, tak tahu siapa dan apa yang sedang ia hadapi sebelum pingsan. Dr. Siena Brooks, dokter yang menangani Langdon pun akhirnya turut terlibat dalam situasi yang rumit...

Inferno bisa dibilang mengalami pasang surut dari segi penyajian cerita. Tidak stabil dan rumit berujung misteri yang terlalu lama untuk dijawab. Tidak hanya demikian, saat beberapa misteri terjawab pun, tidak mengena. Ekplanasi yang terlalu terburu-buru dan berliku memberikan kesan bahwa Inferno tidak terlalu menghargai menit demi menit misteri yang diberikan pada awal film.

Durasi 2 jam dirasa terlalu "sebentar" untuk menjabarkan kompleksitas novel Dan Brown. Ya, jelas dibanding pendahulunya The Da Vinci Code ataupun Angels & Demons, Inferno adalah yang paling cepat dari segi durasi. Dampaknya: kompleksitas misteri yang diangkat, banyaknya karakter yang dilibatkan tidak sebanding dengan kualitas jawaban-jawaban yang dimunculkan. Jawaban yang cepat, singkat, kadang kabur, mudah dilupakan, tapi kadang terlampau ekplisit, disitulah Inferno malah menjadi "murah" bagi para pencinta genre sejenis.

Selain cerita dan durasi, Inferno bisa dibilang lemah dari segi pemilahan bagian, yang mana yang vital, yang mana yang tidak. Terasa sekali ketika porsi dari seorang Harry Sims 'The Provost' (Irfan Khan) sangat-sangat kurang. Padahal jika nanti diperhatikan, dialah yang punya andil terbesar di film ini.

Intinya, kali ini Ron Howard tidak memperhatikan sudah berapa banyak premis yang ia lempar, namun tidak sebanyak konklusinya. Malahan aksi kejar-kejaran ala film action medioker lah yang diperbanyak. Latarnya pun juga terlalu ramai. Khas seperti film-film sebelumnya memang. Namun celakanya, distraksi inilah yang membuat potongan puzzle di film ini jadi agak sulit untuk disusun. Tiap scene terkadang tidak seimbang peletakannya. Saat ada scene yang bisa dibilang oke, namun scene berikutnya terkesan murahan, begitu seterusnya.

Selasa, 11 Oktober 2016

[Review] Swiss Army Man

We all need some body to lean on

Berkisah tentang seorang pria bernama Hank yang hampir kehilangan harapan hidup di sebuah pulau. Saat itulah ia menemukan ada jasad misterius yang mempunyai kemampuan-kemampuan yang aneh bernama Manny. Manny dianggap bisa membantu Hank untuk keluar dari ketersesatannya dan mencari jalan pulang. Aneh bukan, sebuah jasad bisa membantu? 

Swiss Army Man (SAM) menjadi sebuah film komedi unik Sundance Film Festival yang bisa dibilang dapat mengocok perut sekaligus mengocok otak. Hal ini karena hampir semua yang disajikan di film SAM mulai dari plot, dialog dan inti cerita yang sederhana namun sulit dicerna nalar dan terkesan asal.

Saat melihat judulnya Swiss Army Man yang merupakan plesetan dari swiss army knives, sebuah alat portabel multiguna. SAM benar-benar mengerjai penonton, mengajak penonton untuk mengernyitkan dahi selama film berlangsung. Membuat penonton untuk terus mengumpat dalam hati: "wtf, wtf, wtf.

Kehadiran Paul Danno dan Daniel Radcliffe sedikit banyak menjadi daya tarik untuk penasaran dengan SAM, berhubung memang film ini terbangun atas kelihaian peran dari 2 aktor tersebut.

Dibalik kebodohan dan keanehannya, keunggulan SAM bisa dilihat dari banyak sisi yang jarang atau bahkan tidak ditemukan dalam film lain. Sebuah debut karya layar lebar dari Dan Kwan dan Daniel Scheinert yang bisa menjadi awal yang baik bagi karir penyutradaraan mereka untuk menciptakan genre mereka sendiri.

Namun dengan keunikannya. SAM malah menjadi segmented. Tidak semua kalangan akan bisa menikmati sajian satu setengah jam yang terbilang tidak jelas bin absurd ini.

Tahun lalu ada The Lobster yang bagi para penikmat dan sineas film menjadi patokan sebagai weirdest film of the year . Dan tahun ini saya rasa SAM telah menjadi pengikutnya.

Sabtu, 10 September 2016

[Review] The BFG

The World is More Giant than You Can Imagine

Berbalut nama besar Walt Disney Pictures dan Steven Spielberg, The BFG menjadi salah satu garapan hollywood yang paling ditunggu musim ini. Diangkat dari buku anak-anak klasik bertajuk folklore karangan Roald Dahl, The BFG a.k.a The Big Friendly Giant versi layar lebar nyatanya tidak serta merta menemui jalan lurus dalam mengambil hati para penonton. 

Bermula dari seorang gadis yang tinggal di panti asuhan, Sophie yang mempunyai rasa penasaran yang tinggi atas apa yang terjadi di dataran Inggris ketika anak-anak tiba-tiba menghilang secara misterius. Secara tidak sengaja ia bertemu sosok raksasa besar. Raksasa ini unik karena penampilannya yang menyeramkan tidak berarti raksasa ini jahat seperti raksasa yang lainnya. Shopie yang belajar banyak hal dari BFG dan BFG yang belajar banyak hal dari Shopie. Perkerabatan Shopie dan BFG pun berlanjut, hingga akhirnya mereka mengambil keputusan yang berani...



Sangat disayangkan bahwa The BFG bisa dikatakan tidak mengenai target pasar utamanya, yaitu usia anak-anak. Ditandai dengan durasi yang terlalu lama, perpindahan scene yang juga memakan durasi, permainan kata-kata, dialog dengan implisit joke yang terlampau sering, berpotensi untuk menjadi tontonan membosankan serta beberapa konsep mimpi yang disisipkan saya rasa masih sulit dicerna anak. Sedangkan bagi orang dewasa yang menontonnya, film ini malah dibilang terlalu "anak-anak" dari level keringanan materi dan ceritanya. Jadi masih abu-abu, siapa target penonton sebenarnya dari The BFG.

Diisi oleh deretan aktor/aktris medioker membuat The BFG sangat bergantung pada naskah dan sajian visualnya. Sayangnya lagi tidak ada hal yang terlampau spesial dari kedua hal ini. Jika banyak yang mengatakan ini adalah flop untuk seorang sutradara sekaliber Steven Spielberg, saya juga tidak bisa menyangkal. Namun untuk anda yang rindu sebuah film fantasi untuk mengisi akhir pekan anda yang panjang ini, film ini tidak sangat buruk.

Review The BFG Sinopsis Bahasa Indonesia

Minggu, 28 Agustus 2016

[Review] Stranger Things - Season 1

Friends don't lie

Dirilis di Netflix pada pertengahan Juli lalu, Stranger Things menjadi viral ketika dianggap berhasil dalam merepresentasikan kembali gaya film horor tahun 80 an.

Disutradarai oleh dua bersaudara Duffer, Matt dan Ross Duffer, season 1 yang terdiri dari delapan episode Stranger Things berjalan perlahan namun pasti, menguak "Sesuatu yang Asing" di sebuah kota kecil Hawkins, Indiana. Dimulai dari peristiwa hilangnya Will Byers (Noah Schnapp) secara misterius pada 6 November 1983 yang membuat sang Ibu, Joyce Byers (Winona Ryder) panik bukan kepalang. Pencarian dan penyelidikan atas hilangnya Will dipimpin oleh Jim Hopper (David Harbour) seorang kepala Polisi setempat yang berdedikasi penuh terhadap kasus ini. Bukan hanya polisi, teman-teman Will yaitu Dustin, Mike dan Lucas yang punya cara sendiri untuk mencari Will.

Pencarian yang didasari rasa kekhawatiran, penuh dengan misteri dan keanehan membuat kisah mereka makin mencekam. Hingga suatu ketika ditengah pencarian mereka malah menemukan seseorang anak dengan kemampuan khusus yang mungkin bisa menjadi kunci untuk mengembalikan Will ke keluarganya.



Untuk segi plotting, Stranger Things tidak hanya berfokus untuk menyajikan sebuah tontonan horror yang memacu adrenalin penonton melainkan juga pembentukan karakter, relasi antar karakter dan pembentukan atmosfir cerita yang dikemas secara durasi cukup tepat, ringan dan tertata rapih dan akhirnya membuat setiap episode makin menarik untuk diikuti. Selain daripada kebijakan Netflix sendiri, tidak terlalu banyaknya episode mengesankan bahwa Stranger Things juga tidak ingin bertele-tele dalam menghabiskan cerita.

Pada bahasan pemainnya, dua jempol saya acungkan jelas pada performa Winona Ryder yang bisa "menularkan" kepanikan seorang Ibu yang kehilangan anaknya kepada penonton. Kondisi seorang ibu yang ketakutan namun juga tetap berani karena naluri berhasil diperankan secara apik. Untuk Geng bocah, Dustin, Mike dan Lucas, bumbu petualangan berbalut konflik (yang juga konflik bocah) dan pemecahan masalah yang terkadang nampak konyol namun sebenarnya serius akhirnya membuat web series ini lebih "ringan" untuk ditonton. Ditambah sentuhan kisah Nancy Wheeler (Natalia Dyer) dan para remaja yang menambah seri ini makin lengkap saja.

Setting klasik seperti beberapa ikonik scene The Evil Dead, atau poster The Thing yang dipampang tentunya makin kuat menghembuskan angin nostalgia para penikmat horror 80 an. Awalnya, saya masih merasa skeptis pada 2 episode pertama. Namun ketika konsep dan setting yang menunjukkan tanda-tanda parallel universe mulai berkembang di pertengahan episode, disitulah saya mulai kembali tertarik dalam seri horror-scifi ini. Sebagai permulaan, web series ini cukup menghibur dan tidak mengecewakan.

Review Sinopsis Bahasa Indonesia

Selasa, 09 Agustus 2016

[Review] The Purge 3 : Election Year



"Keep America Great"

Masih melanjutkan "Pembersihan" pada 2 film sebelumnya, The Purge 3: Election Year mulai menuju pada puncak permasalahan sekaligus pertanyaan tentang: "siapakah selama ini yang menjalankan pembersihan tahunan?" "Dapatkah pembersihan ini dihentikan?"

Dengan tetap mengandalkan tokoh Leo Barnes (Frank Grillo) sebagai sudut pandang penonton, sekuel ketiga ini dibuka dengan sebuah adegan flashback masa lalu dari Senator Charlie Roan (Elizabeth Mitchell) yang mengalami sebuah peristiwa pahit atas apa yang dilakukan partisipan The  Annual Purge terhadap keluarganya. Ketika Roan mengumumkan dirinya sebagai oposisi NFFA dan maju sebagai calon presiden Amerika Serikat, kita pun tahu jelas bahwa tentunya misi utama Roan adalah menghilangkan program "The Annual Purge" yang telah merenggut keluarganya.

Kunci keberhasilan The Purge hingga meluncurkan sequel ketiganya ini adalah pada ide cerita yang membuat orang membayangkan bagaimana jika program "The Annual Purge" benar-benar terjadi di kehidupan nyata. Permasalahan yang dekat dengan kehidupan serta solusi yang ditawarkan begitu nyata dan masuk akal, yaitu kebrutalan satu hari demi kedamaian satu tahun. 

Namun harus saya katakan bahwa sensasi thrilling khas The Purge jauh berkurang dibanding dua pendahulunya. Bisa dibilang peristiwa "pembersihan" kali ini malah hanya menjadi pemanis dari konflik-konflik utama yang ingin disampaikan. Bahkan pemandangan mengerikan dari kegiatan "pembersihan" tahunan masih belum cukup kuat untuk memberi efek "disturbing" yang  berarti.

Ada bagian yang sesungguhnya tidak diperlukan, entah karena salah pemilihan karakter atau set yang kurang creepy, akhirnya terlihat freak dan murah. Dan bagian yang kerennya yang menurut saya dibentuk dari sebuah premis brilian didukung set dan kostum yang oke, justru diperlihatkan sekilas saja, dan akhirnya menjadi kesia-siaan karena kurang membekas dalam ingatan. Bisa dilihat kalau  dibandingkan trailernya yang malahan lebih gahar.

Film ini menuai impresi positif dari duo protagonis yaitu Frank Grillo dan Elizabeth Mitchell yang berhasil memperlihatkan kemistri profesional antara Senator dan ajudan sembari bertahan untuk menghadapi satu malam pembersihan. Hanya untuk villainnya sendiri baik dari Edwidge Owens (Kyle Secor) atau Earl Danzinger (Terry Serpico) yang hanya terkesan "haus darah" tanpa tujuan yang terlampau jelas, masih tidak terlalu punya kontribusi yang kuat untuk membuat suasana makin mencekam. Lebih kepada ketidakseimbangan antara jumlah serta kekuatan karakter protagonis dan antagonis yang membuat pemecahan masalah di Election Year masih terlampau mudah.

Banyaknya karakter negro yang seakan menjadi ikon ketidakadilan sebuah strata sosial agaknya menjadi andalan The Purge selama ini. Namun sayang justru kali ini menjadi buah simalakama karena menurut saya kali ini porsi negro yang "terlalu banyak" malah menjurus rasis.

Dengan membawa latar belakang politik sebagai tema besar keseluruhan film, Election Year terkesan runyam namun sesungguhnya sederhana, tidak terlalu banyak plot kejutan. Dengan mengacu pada alur dalam seri The Purge sebelumnya, mulai dari perkenalan tokoh beserta eksplanasi singkat, sedikit demi sedikit memperlihatkan keterkaitan antara satu tokoh dengan yang lain jelas sekali mirip dengan plot yang dirancang pada The Purge dan Anarchy. Walaupun sayangnya sekuel Election Year kali ini tidak berjalan sebaik yang kedua, namun saya rasa sisa 10 sampai 5 menit terakhir tetap merupakan bagian yang terselesaikan dengan sempurna.




Kamis, 04 Agustus 2016

[Review] Suicide Squad

"WORST HEROES EVER"

Ketika para penikmat film superhero DC menantikan sebuah penebusan dosa Batman v Superman Dawn of Justice, Suicide Squad yang digadang-gadang menjadi ikon nyentrik anti-hero untuk maju melawan "Guardians of the Galaxy" besutan Marvel justru malah menambah berat perjalanan franchise Justice League.

It feels good to be bad. Sebuah tim yang terdiri dari penjahat-penjahat paling gila dan paling berbahaya dibentuk untuk tujuan khusus dari intelejen keamanan Amerika Serikat. Tentunya keputusan pembentukan tim ini bukannya tanpa resiko, namun melihat apa yang mereka hadapi, kedua pihak baik pemerintah maupun para penjahat pun tidak memiliki pilihan lain.


Sepanjang film, perhatian terpusat penuh justru pada Margot Robbie sebagai Harley Quinn yang memegang peranan penting: untuk paling tidak mencoba "menyelamatkan" Suicide Squad yang sudah seperti kehilangan arah. Sayangnya selain Margot, akting deretan pemain papan atas seperti Will Smith dan tentunya Jared 'the Joker' Leto yang mendapat porsi sangat-sangat kurang, masih belum bisa menutupi lemahnya naskah yang dirancang David Ayer.

Ya, Ayer bertanggung jawab penuh atas ketidakmampuannya memaksimalkan potensi karakter yang berdampak pada kekacauan alur yang terkesan kacangan. Jika dilihat sekilas, Suicide Squad masih terlihat canggung dan masih malu-malu untuk berbuat lebih "nakal". Bahasa yang digunakan dan kelakuan para anti-hero ini masih termasuk sopan untuk golongan "penjahat"

Singkatnya, Suicide Squad mampu menipu kita dengan marketingnya yang mulai masiv jauh sebelum film ini perdana diputar. Masih banyak kekurangan yang bisa dikulik dari film ini, dimana bagian yang menunjukkan impresi cukup baik adalah 20-30 menit awal, beberapa scene ada yang terlihat chilling, namun selebihnya adalah sekedar film action absurd yang eksekusinya asal-asalan.

Terkait ini, heboh fans DC comics yang melayangkan petisi kepada Rotten Tomatoes untuk menghentikan layanan karena review dan ratingnya yang sadis. Hanya saja jika begini ya wajar saja jika demikian adanya. Dan juga belum lama ini Trailer perdana Wonder Woman dirilis, tentu harapan masih ada walaupun tidak terlalu tinggi semenjak kegagalan DC untuk yang kedua kalinya secara beruntun.



[Review] Star Trek: Beyond



Ketika berbicara Star Trek modern besutan JJ. Abrams, banyak tanggapan positif dari para sineas film khususnya pencinta film Star Trek. Star Trek: Beyond mendapat perlakuan yang agak berbeda dari dua sekuel Star Trek modern. Banyak yang terobati rasa rindunya terhadap kisah klasik Spock dan Kirk, disisi lain banyak juga yang kecewa karena merasa kualitas Star Trek menurun setelah dipegang oleh Justin Lin sebagai Director yang baru.

Kompleksitas dan mewahnya CGI yang dipamerkan sayangnya tidak berbanding lurus dengan kompleksitas cerita. Dibandingkan Star Trek dan Into the Darkness, Beyond memiliki cerita yang paling ringan, sehingga sensasi ceritanya akan berlalu begitu saja ketika selesai menonton. Dan mungkin sedikit kekecewaan di benak saya ketika para musuh dan armadanya yang terlihat "terlalu mengerikan" ternyata dapat dikalahkan hanya dengan cara yang sederhana.


Bagi kita orang Indonesia, kehadiran Joe Taslim sebagai sosok Manas salah satu partner villain utama, Krall, cukup menjadi daya tarik. Durasi kemunculan yang cukup sering dan lama, namun sayangnya sosok Manas tidak memperlihatkan wajah. Sampai-sampai saya berfikiran bahwa tidak ketahuan juga apakah ini Joe Taslim atau bukan.


Daya tarik lain untuk menonton Beyond adalah partisipasi terakhir di franchise Star Trek bagi seorang Anton Yelchin yang beberapa bulan lalu menghembuskan nafas terakhirnya. 

Secara keseluruhan, Beyond menjanjikan petualangan dari genre fiksi ilmiah yang cukup menghibur namun tidak luar biasa dari segi sinematiknya.
Review Sinopsis Film Star Trek Beyond Bahasa Indonesia