Selasa, 09 Agustus 2016

[Review] The Purge 3 : Election Year



"Keep America Great"

Masih melanjutkan "Pembersihan" pada 2 film sebelumnya, The Purge 3: Election Year mulai menuju pada puncak permasalahan sekaligus pertanyaan tentang: "siapakah selama ini yang menjalankan pembersihan tahunan?" "Dapatkah pembersihan ini dihentikan?"

Dengan tetap mengandalkan tokoh Leo Barnes (Frank Grillo) sebagai sudut pandang penonton, sekuel ketiga ini dibuka dengan sebuah adegan flashback masa lalu dari Senator Charlie Roan (Elizabeth Mitchell) yang mengalami sebuah peristiwa pahit atas apa yang dilakukan partisipan The  Annual Purge terhadap keluarganya. Ketika Roan mengumumkan dirinya sebagai oposisi NFFA dan maju sebagai calon presiden Amerika Serikat, kita pun tahu jelas bahwa tentunya misi utama Roan adalah menghilangkan program "The Annual Purge" yang telah merenggut keluarganya.

Kunci keberhasilan The Purge hingga meluncurkan sequel ketiganya ini adalah pada ide cerita yang membuat orang membayangkan bagaimana jika program "The Annual Purge" benar-benar terjadi di kehidupan nyata. Permasalahan yang dekat dengan kehidupan serta solusi yang ditawarkan begitu nyata dan masuk akal, yaitu kebrutalan satu hari demi kedamaian satu tahun. 

Namun harus saya katakan bahwa sensasi thrilling khas The Purge jauh berkurang dibanding dua pendahulunya. Bisa dibilang peristiwa "pembersihan" kali ini malah hanya menjadi pemanis dari konflik-konflik utama yang ingin disampaikan. Bahkan pemandangan mengerikan dari kegiatan "pembersihan" tahunan masih belum cukup kuat untuk memberi efek "disturbing" yang  berarti.

Ada bagian yang sesungguhnya tidak diperlukan, entah karena salah pemilihan karakter atau set yang kurang creepy, akhirnya terlihat freak dan murah. Dan bagian yang kerennya yang menurut saya dibentuk dari sebuah premis brilian didukung set dan kostum yang oke, justru diperlihatkan sekilas saja, dan akhirnya menjadi kesia-siaan karena kurang membekas dalam ingatan. Bisa dilihat kalau  dibandingkan trailernya yang malahan lebih gahar.

Film ini menuai impresi positif dari duo protagonis yaitu Frank Grillo dan Elizabeth Mitchell yang berhasil memperlihatkan kemistri profesional antara Senator dan ajudan sembari bertahan untuk menghadapi satu malam pembersihan. Hanya untuk villainnya sendiri baik dari Edwidge Owens (Kyle Secor) atau Earl Danzinger (Terry Serpico) yang hanya terkesan "haus darah" tanpa tujuan yang terlampau jelas, masih tidak terlalu punya kontribusi yang kuat untuk membuat suasana makin mencekam. Lebih kepada ketidakseimbangan antara jumlah serta kekuatan karakter protagonis dan antagonis yang membuat pemecahan masalah di Election Year masih terlampau mudah.

Banyaknya karakter negro yang seakan menjadi ikon ketidakadilan sebuah strata sosial agaknya menjadi andalan The Purge selama ini. Namun sayang justru kali ini menjadi buah simalakama karena menurut saya kali ini porsi negro yang "terlalu banyak" malah menjurus rasis.

Dengan membawa latar belakang politik sebagai tema besar keseluruhan film, Election Year terkesan runyam namun sesungguhnya sederhana, tidak terlalu banyak plot kejutan. Dengan mengacu pada alur dalam seri The Purge sebelumnya, mulai dari perkenalan tokoh beserta eksplanasi singkat, sedikit demi sedikit memperlihatkan keterkaitan antara satu tokoh dengan yang lain jelas sekali mirip dengan plot yang dirancang pada The Purge dan Anarchy. Walaupun sayangnya sekuel Election Year kali ini tidak berjalan sebaik yang kedua, namun saya rasa sisa 10 sampai 5 menit terakhir tetap merupakan bagian yang terselesaikan dengan sempurna.






Read Another


CATEGORIES


Tags

0 Comment :

davidpras1994@gmail.com

Name

E-mail *

Message *


G Plus
@davithace
PIN : 51E456D8
LINE : davithace

close