Jumat, 26 September 2014

Kenapa Jarang ada Programmer Wanita?



Sekedar intermezzo, pertanyaan ini sejak lama ada dipikiran saya. Ya sejak lulus SMA dan mulai merasakan bangku kuliah. Pekerjaan bidang IT selalu identik dengan kaum adam. Kenapa ya?

Disini saya mengambil contoh satu lingkup pekerjaan bidang IT yang sangat jarang digeluti perempuan, yaitu programmer. Programmer apa saja. Programmer desktop, mobile, web, network, game dan sebagainya.

Nah, di tulisan kali ini saya ingin menjabarkan beberapa poin yang mungkin menjadi alasan kenapa wanita/cewek jarang ada yang mau menekuni perkerjaan sebagai Programmer.

1. Cewek lebih peduli pada kesehatan dan penampilan dirinya sendiri.
Sudah bukan rahasia umum kan jika programmer dicap sebagai manusia urakan yang menjurus kepada ‘tidak terurus’, ngutak-atik kodingan sampai begadang ditemani segelas kopi dan berbatang-batang rokok. Sering lupa makan, lupa mandi, yaa sampai badan menjadi bau dan lusuh.
Sekarang saya tanya, mana ada cewek yang mau punya style seperti itu?

2. Cewek adalah kaum sosialita
Menghabiskan waktu berjam-jam di depan komputer (untuk main game saja misalnya) jarang ada cewek yang betah. Apalagi untuk mengerjakan suatu program dengan algoritma yang kompleks ngalor ngidul. Mending hang out, jalan-jalan sambil belanja, atau curhat tentang cowoknya yang mulai nggak perhatian.. *eh* :)

3. Cewek lebih mudah menyerah dan putus asa
Bukan bermaksud mendiskreditkan atau menganggap remeh, tetapi di banyak kasus, jarang saya melihat ada cewek yang mau berjuang memperbaiki Bug / error suatu program sampai ketemu solusinya. Kalau di pengalaman saya sih misalnya ada tugas kuliah coding program, terus error ditengah-tengah. Udah, pasti langsung nanya tuh ke temennya/pacarnya yang udah bisa. Kalo temennya nggak bisa juga, ya lanjut deh ngerumpi bareng geng-nya.. hehe

4. Emosi Cewek sangat tidak stabil
Pekerjaan sebagai programmer adalah pekerjaan dengan tingkat pressure yang cukup tinggi. Misal, anda harus mengerjakan sebuah aplikasi dalam waktu sekian bulan. Belum lagi untuk testing dan error fixing-nya. Nah, konsistensi mood seorang programmer dalam menggarap projectnya sangat diperlukan. Keterampilan untuk mengolah emosi demi kesuksesan program. Tau sendiri kalau tingkat emosi perempuan meningkat pada setiap bulan siklus biologisnya. Program kamu error? Cari solusinya. Jangan marah-marah apalagi sampai nangis :D

5. Lebih suka buka Situs Sosial dibanding Situs Tutorial
Belakangan ini saya suka mengamati, apa aja sih situs yang biasa dibuka para anak IT cewek. Ya, tidak jauh-jauh dari sosial media, situs film korea, fanpage Taylor Launtner, situs video Justin Bieber ( yang ini ngarang :p) .. Jarang banget ada yang telaten untuk rajin buka situs tutorial komputer. Apalagi kalau tutorialnya bahasa Inggris.

6. Lebih suka mengikuti Trend tapi tidak mempelajari Trend
Contoh 1: Bulan ini keluar Smartphone baru? Wah, langsung deh pada heboh berlomba-lomba buat beli. Udah dibeli, yaudah. Nggak tau itu pake teknologi apa, OS versi berapa, bedanya apa sama versi sebelumnya, nggak pernah dipakai buat debugging / develop aplikasi bikinan sendiri.
Contoh 2: Beli laptop. Spesifikasi oke. Tapi ada problem di laptopnya.
Saya: “Ini kenapa OS laptop lu ngaco begini deh?“
Dia: “Nggak tau deh, ini yang nginstallin abang2 nya“
Saya: “Yaudah install ulang aja“
Dia: “Oke, tolong instalin dong“
Saya: --____---

Ya, keliatannya dengan sifat cewek yang sebegitu kompleksnya, kok seakan memang cewek itu nggak cocok banget ya terjun ke dunia IT.

Tapi yang saya bingung, nilai teman-teman kuliah saya (yang cewek) ya bagus-bagus.. Banyak yang rajin belajar, rajin ngerjain tugas dan bisa meraih predikat mahasiswa terbaik dengan IPK yang lumayan bagus-bagus loh. Tapi coba lihat laptopnya. Aplikasi seadanya (yang dibutuhin buat kuliah aja), desktop berantakan, kadang nggak pake antivirus, pas laptopnya kena virus sewot sendiri, nginstal program cuma next-next aja, gak sadar tiba-tiba keinstall aplikasi aneh-aneh, pakai Linux cuma 1 semester (pas kuliah Sistem Operasi aja) dan masih banyak yang membuat saya heran geleng-geleng kepala.

Yang dikoleksi aplikasi apa coba? Aplikasi social media, aplikasi chatting, Webcam, Camera 360, Aplikasi editing foto instant -__-

Sepengalaman dan sepengelihatan saya, memang cukup banyak wanita yang mengisi beberapa pos dunia IT. Sebagai Dosen IT, atau Kepala bagian IT di kampus misalnya. Kalau di kantor, software house atau proyek, entahlah, saya yakin masih jarang.

Bukannya saya mau merendahkan dan meragukan kemampuan perempuan di bidang IT, saya justru sangat mengapresiasi perempuan-perempuan yang mau masuk ke dunia IT. Tapi ini adalah realita atas apa yang saya lihat selama ini.

Nah, kalau kamu merasa perempuan, yang sudah memutuskan untuk terjun di bidang IT, dan punya sifat yang seperti yang saya sebutkan di atas, ya tidak salah juga. Saya kira itu alami dan mungkin sudah kodratnya bahwa masing-masing gender punya sifat dan kemampuan yang berbeda. Tapi jelas kalau seperti itu, nanti kedepannya kamu akan sedikit sulit bersaing dengan kaum adam. Segeralah berusaha lebih keras lagi! :) Buktikan kalau emansipasi yang katanya diperjuangkan oleh Kartini itu bukan sekedar cerita pelengkap buku pelajaran sejarah.

Praktik kerja nyata di bidang IT (tidak hanya programmer) memang terkenal punya potensi meningkatkan stress bagi yang menjalaninya. Kita akan terus belajar hal baru pada setiap project yang kita tangani. Walaupun memang kalau kita enjoy menjalaninya, maka kita akan terbiasa...



Read Another


CATEGORIES


1 komentar :

davidpras1994@gmail.com

Name

E-mail *

Message *


G Plus
@davithace
PIN : 51E456D8
LINE : davithace

close