Rabu, 09 Mei 2012

Cerpen Remaja - Silent Love ( Teelit Story )

Silent Love
 By: Lamria Delima Sirait :) 


Steva yang masih menggunakan seragam putih abu-abunya sedang sibuk membentang-bentangkan semua buku dan tas selempangnya yang basah kuyup diselasar koridor sekolah lantai 3.
“Kurang ajar! Liat aja si Yosua, nanti bakal gue bikin kapok dia!” sungut Steva kesal, Claire sahabat Steva yang sedari tadi membantunya hanya tersenyum simpul.
“Sabar ya Stev. Eh heran yah si Yosua itu, kok cuma lo yang diusilin? Jangan-jangan dia ada rasa kali sama lo?” goda Claire pada Steva
“Heh sialan lo, ogah gue!”
“Hai lady’s lagi sibuk ye? Eh, neng cucian dirumah jangan dijemur disekolahan dong! Masa baju olah raga digantungin gitu kaya bendera?” ledek Yosua yang tiba-tiba saja muncul dan menghampiri mereka dengan gaya sok akrab.
“Eh babon gila! Nggak usah ceramah deh lo, liat nih karya tangan lo, mending numpahin air lah ini susu cokelat!” pekik Steva, sementara Claire menahan tawa
“Haha sorry ye Stev, stok air mineral gue habis jadi susu UHT aja ya? Biar sekalian ninggalin noda ditas, buku dan baju olah raga lo, lumayan buat kenang-kenangan” ujar Yosua disela-sela tawanya “udah ah, selamat menjemur” tambahnya lalu pergi. Steva menatap penuh kesal pada punggung Yosua yang semakin menjauh.
“Liat lo ya, hari ini lo bakal terima balesan dari gue” desis Steva, Claire hanya mengangguk seolah menyetujui ucapan Steva barusan, ia tau pasti ucapan Steva tadi tidaklah main-main “pasti seru” serunya dalam hati.

***

            “Lo kenapa sih Yos, seneng amat ngusilin Steva?” tanya Daniel saat mereka sedang berganti pakaian, sebentar lagi mereka akan masuk ke pelajaran olah raga.
“Nggak kenapa-napa sih, cuma asik aja ngusilin si pendek itu. Kalo marahkan ngamuk terus meledak-ledak deh kaya kompor gas LPG dari pemerintah” jawab Yosua kalem
“Em lo ada feel yah sama Steva?” tuding Daniel sesukanya
“Ngaco! Masa gue suka sama bonsai gagal itu? Eh, selera gue tuh kaya Logan Lerman, Christina Aguilera atau nggak kaya Kate Elizabeth Winslet tuh yang jadi Rosse difilem Titanic”
“Halah sepik aja lo, lagian mana mau tuh artis sama lo!” cibir Daniel
“Eh Niel, baju olah raga gue mana ya?” tanya Yosua sambil mengubik isi tasnya
“Coba cari yang bener, masa nggak ada? Apa jangan-jangan lo lupa bawa kali?” Daniel ikut mencari
“Gak mungkin gue lupa bawa, wong pas istirahat aja masih ada kok” ucap Yosua dengan pasrah, seketika satu suara teriakan membahana masuk kedalam ruang ganti, suara yang sudah akrab dan tak asing lagi buat kuping-kuping kedua cowok ini
“YOSUA! YOSUA! Kaos olah raga lo nyangsung tuh diring basket, berkibar-kibar ketiup angin kaya bendera Hinomaru!” jeritan nyaring khas Claudio menyadarkan Yosua, seketika Yosua tersentak kaget dan dengan cepat ia berlari keluar menuju lapangan basket, sesampainya disana Pak.Fras dan seisi warga 11.IPA-2 sedang menatap konsen pada kaos putih bernoda merah yang berkibar diring basket. Sekarang Yosua mengerti apa maksud dari bendera Hinomaru, dikaos putih polosnya terlukis satu lingkaran merah besar.
“Ciee ciee, ada tentara Jepang nyasar nih” sahut Steva dari kejauhan, Yosua menoleh kesumber suara, otomatis amarahnyapun terpancing
“Argh! Sial, fanta! Stevaa!” bentak Yosua dan si empunya nama hanya tersenyum dari kejauhan. Baru saja Yosua ingin menghujaninya dengan makian, tapi Pak.Fras sudah keburu menahannya dan tak salah lagi Yosua dihukum 20 kali lari keliling lapangan, awalnya Yosua ingin mengajukan protes tapi ketika dilihatnya mata Pak.Fras yang melotot seram niat itupun diurungkannya. “Haahh..haahh..haah...” nafas Yosua terpenggal-penggal. Hanya satu kata saja yang dapat ia teriakan: CAPEK!, disampingnya Daniel hanya tertawa kecil melihat raut melas dari wajah Yosua. Ketika pemanasan usai, beberapa anak kompak berbaris menunggu giliran untuk pengambilan nilai basket. Dari pinggir lapangan Yosua melihat sesosok Steva yang sedang tertawa terbahak, melihat tingkah gadis itu yang masih bisa tertawa geli, amarah Yosuapun bangkit kembali, dihampirinyalah gadis itu lalu ditariknyalah kunciran yang menempel dikepala Steva, seketika rambut Steva berkibar tertiup angin. Segera Steva bangkit berdiri dan mengejar Yosua, dilemparkannyalah sepatu fantovelnya kearah Yosua dan dengan senang hati Yosua menangkapnya, lalu kembali Yosua lemparkan sepatu itu hingga sukses menggantung diatas pohon rambutan. “YOSUA! SIALAN!” jerit Steva penuh kekesalan.

***

            Keributan-keributan semacam itu sudah jadi santapan biasa bagi warga 11.IPA-2 SMA.Global Mandiri, entah apa maksud dan tujuan dari kedua pelaku keributan ini. 27 kepala selain Steva dan Yosua menyimpulkan kalau keduanya saling suka hanya saja mereka berdua terlalu gengsi untuk mengakuinya.“Kalo lo suka, ya jangan lo usilin mulu dodol” ujar Daniel pada Yosua saat jam pelajaran fisika, didepan ada Pak.Harwin yang sibuk menulis soal
“Apaan sih? Kan gue udah bilang kalo gue cuma demen aja ngeliat tuh bonsai ngamuk”
“Masa? Kan kalian udah kenal dari TK, berarti lo jodoh sama dia”         
“Hah jodoh? Sama kurcaci pendek itu? Iih amit-amit deh” desis Yosua pelan sambil menggetok-getokkan jidatnya dengan kepalan tangannya.         
“Ih pokoknya kalian tuh JODOH!” Daniel tiba-tiba berteriak kencang, PLETAK! Satu spidol hitam sukses mendarat diubun-ubun Daniel.         
“Daniel, sudah merasa pintar kamu? Cepat kerjakan soal dipapan tulis ini SEKARANG!” umpat Pak.Harwin, Daniel balik menoleh menatap wajah Yosua dengan tampang bete, Yosua membalas tatapan bete itu dengan satu senyum simpul sambil berucap “rasain lo”.

***

            Yosua terdiam menatap langit-langit kamarnya, perlahan petikan gitar terdengar. Yosua memainkan gitarnya sambil tidur-tiduran diatas sofa panjang. Tiba-tiba Yosua tersenyum, ia teringat akan senyum, tawa, serta amarah Steva, “Lucu juga” gumamnya dalam hati. Bohong kalau selama ini Yosua mengaku bahwa ia tidak menyukai Steva, perkenalan sejak 13 tahun yang lalu membuat Yosua tidak mampu menghapus bayangan Steva dari benaknya, hanya saja ia terlalu malu untuk menyatakannya, menurutnya Steva pasti akan menertawakan perasaannya itu apa lagi kalau ternyata Steva tidak pernah menyukainya. “Ah sial, damn! Kenapa jadi aneh gini sih perasaan gue?” batinnya sesak. Sementara itu ditempat lain...         
“Aku nggak mau!” jeritan Steva membahana keseantero rumah, Claire yang berada dilantai atas rumah Steva dengan cepat memasang kuping. Oke memang tidak sopan, tapi ia sangat penasaran “aku nggak mau sekolah diAmerika, titik!” jerit Steva lagi, Claire tertegun, Mama dan Papa Steva segera menenangkan putri tunggalnya itu.         
“Tapi sayang, masa depan kamu akan terjamin kalau kamu sekolah disana” ucap Mama         
“Masa depan apa? Toh aku juga udah sekolah disekolah internasional pilihan Mama dan Papa, kenapa aku harus pindah lagi? KENAPA?” teriak Steva disela-sela isak tangisnya.         
“Stevany dengarkan Papa, Amerika punya kualitas pendidikan yang sangat bagus, Papa yakin kamu akan menjadi individu yang luar biasa sepulangnya dari sana” ucap Papa sambil memeluknya, dengan cepat Steva menepis pelukan itu             “Jangan sentuh! Steva benci kalian berdua!” teriak Steva seraya berlari ke kamarnya, sesampainya dikamar Steva langsung memeluk Claire sambil terisak, pertahanan Clairepun jebol, air mata Claire mengalir deras tak tertahankan. Mereka berdua sama-sama tau, seperti apapun penolakan Steva, toh keputusan kedua orang tuanya tidak akan berubah. “Hei cantik jangan nangis lagi ya? Kita nikmatin aja sisa-sisa kebersamaan kita” ujar Claire disela-sela isak tangisnya, perlahan lantunan lagu favorit Steva terdengar dari bibir Claire ‘Saat Kau Pergi’.

***

            Yosua terdiam mematung menatap Steva didepan kelas, gadis itu baru saja mengumumkan kepergiannya ke Amerika besok lusa. Yosua merasa sesak tak tertahankan, apalagi ketika mata Steva yang basah itu melihat kearah dirinya, sungguh Stevapun tak rela pergi meninggalkan Claire, teman-temannya dan Yosua. Haahh Yosua, musuh bebuyutannya sekaligus cinta pertamanya. Steva tertegun sebentar, ia menatap lirih dua bola mata dihadapannya “nggak mungkin Yosua sedih, dia pasti seneng banget kalo gue pergi” bantinnya sesak.

***

            “Sumpah lo orang paling bego yang pernah gue kenal, kenapa sih lo nggak pernah mau jujur sama perasaan lo sendiri?” tanya Daniel dengan heran setengah mati         
“Gue,, gue cuma takut ditolak, kayanya dia benci banget sama gue”         
“Makanya lo juga sih bego diusilin mulu, lagian lo nggak akan pernah tau perasaan dia kalo lo aja nggak pernah berani untuk ungkapin” bentak Daniel “sekarang apa? Dia mau cabut ke Amerika, A-ME-RI-KA! Lo kata Amerika tinggal ngesot apa?”         
“Iya iya gue salah, terus mau gimana lagi Niel? Gue terlambat”         
“Gak ada kata terlambat!” Daniel segera menyeret Yosua masuk kedalam Vios Hitamnya dan segera melesat menuju bandara internasional Soekarno-Hatta.
Steva baru saja tiba dibandara, kepergiannya diiringi oleh kedua orang tuanya dan sahabat terbaiknya, Claire. Sedari tadi mereka tidak melepaskan rangkulannya, sesekali air mata mengalir dari balik kaca mata hitam keduanya.         “Sering-sering kabarin gue yah Stev?” ucap Claire, Steva mengangguk         
“Gue titip Yosua yah? Bilang ke dia kalo gue sayang banget sama dia”         
“Lo nggak pamit sama Yosua?” Steva menggeleng pelan “yaudah nanti gue bilangin ke dia” sambung Claire pelan. Kemudian mereka semua berjalan dengan pelan menuju gerbang keberangkatan tepat ketika Vios milik Daniel berhenti diseberang jalan.         
“STEVA” teriakan Yosua mengalahkan kebisingan dibandara “ELYTA STEVANYA” sontak Steva menoleh, ketika dilihatnya sosok Yosua Stevapun tak mampu menahan diri, rangkulannya degan Clairepun terlepas         
“YOSUA” teriak Steva lalu berlari menghampiri Yosua, air mata Steva kini mengalir dengan sangat deras         
“Stevany kembali kesini!” teriak Papanya tapi tak ia gubris. Tanpa ia sadari sebuah benda meluncur dengan cepat dijalanan yang lenggang itu, pengemudi sedan itu lengah, ia tak menyangka akan ada orang yang berlari melintasi jalan, lalu benturan itupun tak dapat terelakkan, suara logam beradu dengan daging dan tulang memecah keheningan, rem berdecit sia-sia, Steva tewas ditempat. Yosua berlari seperti orang kesetanan, namun sayang rupanya si empunya sedan ingin melarikan diri dan malah menghantam tubuh Yosua, Yosuapun terpental terhempas tepat disisi tubuh tak bernyawa Steva, Yosua juga tewas ditempat. Orang-orang panik berlarian menghampiri korban. Papa dan Mama Steva mengalami depresi berat, Claire meraung dalam pelukan Daniel yang juga menangis. Tapi siapapun yang ada disana dapat melihat wajah kedua mayat itu yang menyiratkan kebahagiaan dan tangan Yosua yang berada diatas tangan Steva seolah mereka sedang bergandengan erat.

***

Pemakaman itu dihadiri seluruh siswa siswi 11.IPA-2 SMA.Global Mandiri, siapa sangka mereka akan kehilangan dua sekaligus teman sekelas mereka yang memang paling sering bertengkar. Dari batu nisan yang terhiasi tanda salib terukir nama Elyta Stevanya dan Yosua Andrean, disamping makam yang bersisian terlihat dengan jelas kedua orang tua Steva dan Yosua yang tak henti-hentinya menangis. Sungguh pemandangan yang sangat menyayat hati. Dari depan makam keduanya, Claire masih tak kuasa membendung air matanya sebisa mungkin Daniel menenangkan pacarnya itu walau sebenarnya ia juga sangat bersedih. Perlahan sayup-sayup terdengar suara Claire menyanyikan lagu favorit Steva...

entah mengapa hatiku t’rus gelisah... apa yang kan terjadi? air mata pun jatuh tak tertahan melihatmu terdiam.. ternyata kau pergi tuk slamanya... tinggalkan diriku dan cintaku... apa kau melihat dan mendengar tangis kehilangan dariku? baru saja ku ingin kau tau perasaanku padamu... mungkin Tuhan tak izinkan sekarang kau dan aku bahagia... ternyata kau pergi tuk slamanya.. tinggalkan diriku dan cintaku..

            Dua sosok tak kasat mata itu tersenyum, dari kejauhan mereka menatap pemakaman itu dengan senyum bahagia, tangan mereka saling bergandengan erat seolah takkan bisa terpisahkan. Yosua mengecup kening Steva dengan lembut, Steva balik memeluk pinggang Yosua. Sosok tak kasat mata itu telah bahagia dialam lain, cinta yang terpendam selama 13 tahun didalam hati mereka kini sudah tumbuh dan memekar karena kiranya mautpun takkan mampu memisahkan cinta ini untuk selamanya         
“I love you Steva” ucap Yosua lembut, Steva tersenyum simpul         
“I love you too Yosua” jawab Steva. Perlahan dua sosok tak kasat mata itu menghilang ditelan awan tertutup dengan tangis kehilangan para pelayat dibumi sana.

-The End -


contoh cerpen remaja




Read Another


CATEGORIES


Tags


0 Comment :